Boyolali Sambut Thudong Waisak 2026, Bawa Pesan Perdamaian Lintas Agama

Hari Raya umat Buddha, Waisak jatuh pada Minggu (31/5/2026). Menyambut perayaan tersebut, 17 Bhikkhu Sangha Agung Indonesia melakukan perjalanan suci dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu Sleman untuk melaksanakan Waisak mulai tanggal 20-31 Mei 2026.

Perjalanan ini merupakan sebuah laku spiritual untuk melatih kesederhanaan, ketekunan, welas asih, dan kedamaian batin. Para Bhikkhu berjalan dari satu tempat ke tempat lain sambil membawa pesan perdamaian bagi semua makhluk. Kegiatan ini juga diikuti kurang lebih 80 pengikut (relawan) dari berbagai komunitas masyarakat tanpa memandang agama.

Berita Lainnya

Perjalanan damai ini menjadi bagian dari semangat Waisak dan gerakan perdamaian lintas umat manusia. Para bhikkhu dan peserta berjalan dalam keheningan, doa, meditasi, serta niat baik untuk menebarkan cinta kasih dan harmoni di sepanjang perjalanan.

Perjalanan ini melewati beberapa kabupaten/kota. Di Boyolali, seluruh rombongan beristirahat di vihara Veluvana Ampel pada Rabu (27/5/2026). Kemudian perjalanan dilanjutkan pada Kamis (28/5/2026) menuju Vihara Abhayagiri Boyolali yang disambut langsung oleh Wakil Bupati (Wabup) Boyolali Dwi Fajar Nirwana pada malam harinya.

Dalam sambutannya, Wabup yang akrab disapa Fajar ini mengungkapkan apresiasi atas thudong yang telah dilakukan para Bhikkhu, karena perjalanan ini membawa misi kemanusiaan dan perdamaian dunia. Pihaknya juga menyampaikan, bahwa masyarakat Boyolali membuka diri, menghargai perbedaan, cinta damai serta menjaga persatuan dalam bingkai kebhinekaan.

“Kami juga berharap semoga perjalanan thudong ini bukan hanya sekedar seremonial saja, melainkan juga menjadi sarana untuk senantiasa mempererat kebersamaan, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, serta senantiasa menjunjung tinggi semangat perdamaian di tengah-tengah masyarakat.” harapnya.
Pada kesempatan itu, disela-sela sambutan, Wabup Fajar juga menyerahkan tali asih kepada para Bhikkhu dari Pemerintah Kabupaten Boyolali.

Bhante Nyanakaruno Mahathera, Bhikkhu yang memimpin Thudong ini mengatakan, perjalanan ini merupakan sebuah simbol untuk menyuarakan perdamaian antar umat manusia lintas agama, ditengah-tengah isu global tentang genosida di Palestina. Ia pun mengucapkan terimakasih kepada seluruh elemen yang mendukung terselenggaranya Thudong ini, mulai dari Pemerintah Daerah hingga masyarakat umum lintas agama.

“Sehingga kondisi inilah yang memberikan kekuatan pada kami semua melakukan perjalanan ini ke Candi Sewu. Semoga hal tersebut memberikan motivasi kami, bahwa moderasi beragama betul-betul dapat dilaksanakan.” ungkapnya. Selanjutnya, perjalanan suci para Bhikkhu pun dilanjutkan ke Klaten pada pagi harinya.

Pos terkait